Sekitar dua tahun belakangan ini, kita disodori beberapa tayangan film-film Indonesia yang menarik melalui media tradisional masyarakat yaitu televisi. Katakan saja dimulai dari “Ada Apa Dengan Cinta”, lantas beberapa tahun kemudian diantara bersliwerannya film-film “Ooo, seraam” muncul film bertema relijius yang diangkat dari novel laris “Ayat-ayat Cinta”. Kemudian film bertema segala umur yang membludak penontonnya yaitu “Laskar Pelangi”, disusul dengan film “King”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Garuda Didadamu”, hingga santer terdengar satu film perjuangan yang digarap dengan dana dan sumber daya yang serius yaitu “Merah Putih”.
Berbeda dengan film-film genre “Ooo, seraammm” yang membanjiri bioskop tiap bulan selama beberapa tahun terakhir ini, film-film diatas nampak mempunyai cara dan pendekatan berbeda untuk menarik minat penonton yaitu dengan digunakannya media masa tradisional, media dijital dan komunitas penggemar secara masif. Saya katakan beberapa saja, dan ini kelak akan berdampak pada pendapatannya, karena ternyata sebagian besar masih belum memanfaatkan kampanye masif multimedia berbasis dijital. Padahal, terlihat ada pengaruhnya pada hasil akhir film tersebut.
Tentu saja keberhasilan film-film baru yang digarap dengan serius itu bukan hanya karena kampanyenya semata. Film tersebut, seperti film Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta, didukung oleh materi asalnya yang memang sudah populer yaitu novel. Namun, disamping itu, kalau kita cermati bagaimana film tersebut menyedot banyak penonton tidak lepas dari peran kampanye yang melibatkan komunitas penggemarnya dan menggunakan internet sebagai media komunitas baru. Bagaimana pengaruhnya secara keseluruhan? Mari kita kaji lebih jauh.
Dalam jangka waktu pendek, sekitar 2 sampai 3 bulan belakangan ini, kita melihat tayangan film-film Indonesia yang mulai keluar dari pakem “Ooo Serammm…” yang merajai sejak beberapa tahun belakangan ini. Dipicu oleh kesuksesan “Laskar Pelangi”, film-film Indonesia yang memberi nuansa baru mulai bermunculan. Tentu saja, kalau kita perhatikan dengan seksama, nuansa baru itu bukan sekedar sutradara dan genre filmnya yang baru. Namun, bagaimana film tersebut mulai di perkenalkan kepada masyarakat juga menunjukkan satu pendekatan berbeda. Setidaknya, ada beberapa ciri yang menonjol bagaimana publikasi film tersebut nampak berbeda.
Film Laskar Pelangi misalnya, memiliki lebih dari 10 halaman penggemar di Facebook. Sebelum film ini di pasarkan, halaman penggemar Laskar Pelangi Coming Soon !! telah mencapai 60 ribuan. Dua kelompok penggemar Laskar Pelangi lainnya, nampaknya diminati oleh pembaca buku dan filmnya, hanya berkisar antara 5000-6000 an simpatisan. Bagaimana dengan film-film lainnya yang belakangan ini telah ditayangkan dan baru mau ditayangkan?
Film Ketika Cinta Bertasbih mempunyai lebih dari 10 halaman fans di Facebook. Sama seperti AAC, film KBC juga sudah mulai dipergunjingkan di komunitas-komunitas pembaca buku tersebut. Jumlah tertinggi untuk penggemar film ini mencapai 21 ribu orang.
Film Garuda Didadaku, yang baru saja di putar di bioskop justru nampaknya belum menggunakan media Facebook dengan optimal. Fans klubnya kurang dari 10 dengan jumlah anggota terbanyak hanya 600 an saja. Mungkin, memang hal ini berhubungan dengan segmentasi usia atau memang kampanyenya agak kurang. Film yang ber-genre sama seperti Laskar Pelangi nampaknya jauh lebih siap dengan promosiny ayang masif bersama komunita spenggemarnya, baik yang dijital maupun jenis komunitas lainnya. Film King, yang konon didasarkan atas riwayat pebulu tangkis kondang Lim Swie King, malah tidak ditemukan halaman penggemarnya di Facebook! Kalau Anda cari dengan kata kunci “Film King” maka yang muncul adalah judul-judul film lama, seperti film King Kong, King Size, King Opera dan film lainnya yang mengandung kata generik “King”. Nampaknya, ada kesulitan untuk memposisikan kata kunci “King” untuk dikaitkan dengan Film King dari Indonesia. Barangkali, kasus yang sama juga akan ditemui untuk kata “merah putih”.
Film Merah Putih, film yang direncanakan akan dirilis bulan Agustus nanti, nampaknya belum mempersiapkan kampanye dengan baik. Hanya ada satu klub penggemar di Facebook yang jumlah anggotanya kurang dari 900 orang. Entah kenapa, film yang digembar-gemborkan berbiaya 60 Milyar dan didokong oleh seabrek teknologi dan pendukung teknis yang kondang dari Hollywood ini belum memperhatikan benar promosi melalui Internet. Bahkan mencari official website untuk film ini juga sulit, mungkin bahkan tidak ada kecuali Anda cari di situs Cineplex 21. Hanya, beberapa waktu ini memang kita melihat sekilas tayangan kilat dan ulasan-ulasan di koran. Apakah film yang direncanakan akan menjadi film Trilogi Perjuangan ini dapat mampu laba atau hanya sekedar menjadi film kampanye yang nampaknya kelewat jadwal? Entahlah, yang jelas gebrakan perkenalan film ini di iklim informasi yang berkejaran dengan cepat nampaknya belum banyak artinya untuk menjanjikan suatu keberhasilan. Jika promosinya kurang masif dan intensif, apalagi menjelang penayangannya kurang memberikan greget untuk membangkitkan “minat menonton”, saya jadi ragu apakah secara finansial film ini balik modal atau tidak? Ataupun apakah tujuan lain dari dibuatnya film ini mampu membangkitkan jiwa raga masyarakat Indonesia atau tidak? Jangan-jangan popularitasnya kalah sama kampanye IndonesiaUnite#.
^atmnd^
2 comments for this entry Subscribe
[...] Kemudian film bertema segala umur yang membludak penontonnya yaitu “Laskar Pelangi”, disusul dengan film “King”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Garuda Didadamu”, hingga santer terdengar satu film perjuangan yang digarap dengan dana dan sumber daya yang serius yaitu “Merah Putih”. Bagaimana keberhasilan dan kegagalan film2 ini dan kaitannya dengan promosi mereka? Simak cerita serunya disini. [...]
[...] Berbeda dengan film-film genre “Ooo, seraammm” yang membanjiri bioskop tiap bulan selama beberapa tahun terakhir ini, film-film diatas nampak mempunyai cara dan pendekatan berbeda untuk menarik minat penonton yaitu dengan digunakannya media masa tradisional, media dijital dan komunitas penggemar secara masif. Saya katakan beberapa saja, dan ini kelak akan berdampak pada pendapatannya, karena ternyata sebagian besar masih belum memanfaatkan kampanye masif multimedia berbasis dijital. Padahal, terlihat ada pengaruhnya pada hasil akhir film tersebut. Bagaimana pengaruhnya dan seberapa jauh film-film Indonesia memanfaatkan kampanye dijital? Baca disini terusannya… [...]
COMMENT