Pernah dengar istilah In-text Advertising, kalau belum, maka sama statusnya dengan saya. Jadi, dengan sedikit upaya saya mencoba menelusuri In-text Advertising ini di Internet. Sebelumnya, saya tahu jargon pemasaran ini dari situs Seth Godin (http://www.sethgodin.com) yang dianggap sebagai penulis, agent of change di internet. Situs jejaring sosialnya yang terkenal adalah Squidoo.com (http://www.squidoo.com/lensbrainstorm#). Saya memang baru daftar disitus ini, jadi masih terbengong-bengong juga bagaimana cara menggunakannnya. Rupanya, situs ini memanfaatkan kekuatan kata kunci yang kita berikan, atau suatu subyek yang kita minati sebagai suatu titik tolak. Sekilas, ini mirip menggunakan tags di blog sebagai kata pijakan.
Secara definitif, intext-ads menurut situs Kontera.com yang mengeluarkan plugins Worspress kontera untuk intext ads menjelaskan kalau intext ads berhubungan dengan penempatan suatu produk atau merek dalam suatu konteks yang satu sama lain saling berhubungan. Baik hubungan itu langsung maupun tidak langsung (tersamar).
Lengkapnya, saya kutipkan saja definisi Intext-Advertising versi Kontera.Com :
In Text Advertising is online product placement based on the contextual relevancy between an advertiser’s brand and online content, much like product placement in movies and TV programs. With In Text Advertising, the advertiser’s brand is linked to a relevant keyword appearing in the online content which is matched to the advertiser’s ad.
Ini sebenarnya bukan jurus lama. Sejarah intext Ads tak lepas dari sejarah iklan konvensional. Pada tahun 1982, untuk menambah penjualan Reese’s Pieces, sebuah merek permen dengan rasa selai kacang yang diproduksi oleh The Hershey Company, Hershey’s menerima penempatan produk permennya dalam film kondang Steven Spielberg’s “E.T.”. Setelah Elliot menggunakan Reese’s Pieces untuk memikat E.T. agar keluar dari tempat persembunyiannya. Konon karena penggalan adegan ini Reese’s Pieces mengalami peningkatan penjualan sebesra 65%. Jadi, nampak penempatan produk dalam suatu film yang seolah-olah terjadi rupanya memang membuat para penonton tergoda juga untuk mencoba. Barangkali teknik ini memang sering kita lihat di film-film Hollywood. Berbagai merek yang tampil di film sekilas nampak tak sengaja, padahal mungkin itu bagian dari promosi juga.
Intext, menggunakan cara yang sama ketika digunakan media basis teks dijital. Hanya saja, karena kita ngomong soal dunia basis teks, yang dikaitkan tentu saja suatu kata atau suatu kalimat yang cocok dengan suatu produk atau merek tertentu. Apakah pencocokan ini otomatis atau sengaja ditautkan, nampaknya bukan soal benar, Yang menjadi persoalan mungkin hanya kendala bahasa saja., Jadi, kelak Intext-Ads bahasa Indonesia pun mestinya membangun suatu kumpulan kata dan kalimat yang cocok dengan suatu produk tertentu yang umumnya bukan bahasa Indonesia. Misalnya, ketika Anda panas dingin karena sakit flu dan menulis hal itu di blog Anda, tulisan panas dingin itu menaut langsung ke merek obat Flu yang tentunya harus bayar supaya merek obatnya ditautkan. Ini nampaknya menjanjikan bagi para bloger atau penulis supaya dapat pendapatan ekstra. Betul kan???
Lebih jauh tentang intext-advertising bisa dikunjungi situs :
**atmnd**
Not Commented... Subscribe
COMMENT